contoh makalah PENGANTAR SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SEJARAH PERADABAN ISLAM - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

contoh makalah PENGANTAR SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SEJARAH PERADABAN ISLAM


PENGANTAR SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM
MAKALAH INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH SEJARAH PERADABAN ISLAM


DOSEN PENGAMPU:
ANIK LATIFAH, M.Pd.I

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
IMAM MAHDHI (17270013)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM IBNURUSYD KOTABUMI - LAMPUNG UTARA
Jl. Soekarno Hatta No.65 Kotabumi Kp. 34511 Telp. 072422577
TP. 2018/2019



       Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah Sejarah Peradaban Islam Tentang “Pengantar Sejarah dan Peradaban Islam” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih pada Dosen mata kuliah Sejarah  Pendidikan Islam yaitu Ibu Anik Latifah,M.Pd.I yang telah memberikan tugas ini kepada saya.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pengantar sejarah peradaban islam. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikamakalah yang telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah saya susun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Kotabumi, 08 September 2018

                                                                                    Penyusun
                                                                                        

DAFTAR ISI

                                                                                
Halaman Sampul                            
Kata Pengantar .................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................. ii
BAB I. Pendahuluan
A.    Latar Belakang.................................................................... 1
B.    Rumusan Masalah............................................................... 2
C.    Tujuan................................................................................. 2
BAB II. Pembahasan
A.       Sejarah dan Peradaban Islam Sebagai
Ilmu Pengetahuan............................................................... 3
B.       Dasar-Dasar Peradaban Islam.......................................... 10
C.       Periodesasi Perkembangan Peradaban Islam.................... 11
BAB III. Penutup
A.       Kesimpulan....................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................... 16







BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kondisi umat islam saat ini banyak tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan bila dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Ini tentu sebuah fenomena yang memprihatinkan karena sangat berbeda dengan kemajuan-kemajuan yang pernah ditorehkan oleh periode-periode pendahulunya terutama di zaman dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah.
Banyak hal yang perlu diingat kembali dari zaman-zaman tersebut. Bagaimana Rasulullah membina sebuah generasi yang mampu mengubah kehidupan jahiliah menjadi masyarakat yang beradab.[1]Bagaimana umat islam mampu memperluas ajaran Islam dan juga memajukan ilmu pengetahuan.
Kemajuan suatu peradaban dalam  sejarah umat manusia tidak mungkin terwujud apabila peradaban tersebut menutup diri dan tidak mau berinteraksi dengan peradaban yang lain. Hadirnya islam sebagai sebuah peradaban yang unggul pada masa jayanya, juga diyakini merupakan buah dari keterbukaan islam untuk menerima berbagai peradaban lain yang ada di luar islam dan kemudian meyelaraskan diri dengan ajaran islam.
Sangatlah penting mempelajari sejarah peradaban islam guna menambah pengetahuan sebagaimana Islam pernah menjadi adi kuasa dan mengambil hikmahnya untuk kehidupan saat ini. Maka langkah awal daripadanya adalah memahami bagaimana sejarah peradaban islam dan bagaimana maksud sejarah peradaban islam sebagai ilmu pengetahuan .

B.       Rumusan Masalah
1.   Bagaimana sejarah dan peradaban islam sebagai ilmu pengetahuan?
2.   Bagaimana dasar-dasar peradaban islam?
3.   Bagaimana periodesasi perkembangan peradaban islam?

C.      Tujuan
1.   Untuk mengetahui sejarah dan peradaban islam sebagai ilmu pengetahuan.
2.   Untuk mengetahui dasar-dasar peradaban islam.
3.   Untuk mengetahui periodesasi perkembangan peradaban islam.

















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah dan Peradaban Islam Sebagai Ilmu Pengetahuan
1.   Pengertian Sejarah Peradaban Islam
Sejarah, dalam bahasa Arab tarikh atau dalam bahasa Inggris history, adalah cabang ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan kronologi berbagai peristiwa. Definisi yang umum dari sejarah adalah masa lampau umat manusia. Menurut Gottschalk, pengertian sejarah tidak lebih dari sebuah rekaman peristiwa masa lampau manusia dengan segala sisinya. Sementara itu, Ibn Khaldun berpandangan bahwa sejarah tidak hanya dipahami sebagai suatu rekaman peristiwa masa lampau, tetapi juga penalaran kritis untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa pada masa lampau.
Sejarah menurut Sartono Kartodirdjo dalam bukunya Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah adalah suatu konstruk, yakni bangunan yang disusun penulis sebagai suatu cerita. Uraian atau cerita itu merupakan suatu kesatuan atau unit yang mencakup fakta-fakta terangkaikan untuk menggambarkan suatu gejala sejarah, baik proses maupun struktur. Kesatuan itu menunjukkan koherensi, artinya berbagai unsur bertalian satu sama lain dan merupakan satu kesatuan. Fungsi unsur-unsur itu saling menopang dan saling bergantung satu sama lain.[2]
Dalam sejarah terdapat rekontruksi masa lalu yang dapat memaparkan penggalan-penggalan peristiwa masa lalu, mengaitkan antara peristiwa-peristiwa yang telah terjadi guna mencapai kebenaran sejarah dan memahami maknanya, serta rumusan-rumusan sebab-sebab munculnya peristiwa dan tentang periodisasi peristiwa tersebut.
Istilah peradaban (civilization) sering disinonimkan dengan istilah kebudayaan (culture) karena keduanya terkait dengan aktifitas manusia. Akan tetapi diantara keduanya memiliki titik penekanan yang berbeda, yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Peradaban terbentuk dari kreasi-kreasi kebudayaan manusia dalam upaya menciptakan identitas kemanusiaan dan kehidupan berkeadaban tinggi.
Hodgson mendefinisikan peradaban sebagai sebuah pengelompokan yang relative luas dari kebudayaan-kebudayaan yang saling berkaitan yang telah terbagi dalam tradisi-tradisi komulatif dalam bentuk kebudayaaan-kebudayaan tertinggi. Jika dikaitkan dengan komunitas masyarakat, peradaban merupakan identitas tertinggi dari berbagai komunitas masyarakat dan yang membedakannya dengan komunitas masyarakat lain.
Peradaban terbentuk dari berbagai unsur-unsur budaya yang saling terkait. Unsur-unsur kebudayaan tersebut adalah agama, bahasa, ras, letak geografis, institusi dan adat istiadat.
Peradaban merupakan sebuah proses dan sekaligus warisan sejarah kebudayaan manusia yang berkembang dan maju. Kebudayaan merupakan aktifitas pemikiran berupa kekreatifan manusia dalam mempertahankan eksistensi dan kebebasan sebagai makhluk yang membuat hidup menjadi lebih mulia.
Peradaban bersifat dinamis dan siklusnya berjalan mengikuti hokum tantangan dan tanggapan. Jika sekelompok komunitas umat manusia dapat memberikan tanggapan atas tantangan-tantangan yang muncul berarti awal dari sebuah kemajuan peradaban dalam masyarakat. Sebaliknya, jika tantangan-tantangan yang muncul tidak dapat ditanggapi maka masyarakat akan mengalami kemunduran peradaban. Hal ini adalah hokum sejarah yang merupakan bagian dari hokum kosmos yang sulit dibantah oleh akal sehat.[3]
Jadi, sejarah peradaban Islam dapat diartikan sebagai perkembangan atau kemajuan kebudayaan islam dalam perspektif sejarahnya. Dapat pula diartikan sebagai kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam satu periode kekuasaan islam mulai dari periode nabi Muhammad saw sampai perkembangan kekuasaan islam saat ini yang berperan dalam melindungi pandangan hidup islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup bermasyarakat.
2.   Pengertian Ilmu Pengetahuan
Istilah ilmu pengetahuan merupakan penggabungan dua kata yang bermakna pengetahuan ilmiah. Istilah ilmu merupakan terjemah dari bahasa Inggris science, berasal dari bahasa Latin scientia yang diturunkan dari kata scire, yang berarti mengetahui (to know) dan belajar (to learn), maka ilmu dapat berarti usaha untuk mengetahui atau mempelajari sesuatu yang bersifat empiris dan melalui suatu cara tertentu.
Karena yang ingin diketahui atau dipelajari bersifat empiris, maka ilmu dapat didefinisikan sebagai suatu eksplorasi ke alam materi berdasarkan observasi, dan mencari hubungan-hubungan alamiah yang teratur mengenai gejala-gejala yang diamati serta bersifat mampu menguji diri sendiri. Pengertian ini tidak jauh berbeda dari yang dikemukakan oleh James Conant, bahwa ilmu adalah suatu deretan konsep dan skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, yang tumbuh sebagai eksperimen serta observasi, dan berguna untuk diamati serta dieksperimentasikan lebih lanjut.
Dengan demikian ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman dan kemasyarakatan untuk mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan ataupun melakukan penerapan.[4]
Sedangkan istilah pengetahuan dapat diartikan sebagai sesuatu yang diperoleh dengan pengalaman-pengalaman. Dan ilmu merupakan salah satu dari cabang pengetahuan.[5]
Jadi, ilmu pengetahuan adalah deretan konsep dan skema konseptual yang berhubungan satu sama lain sebagai hasil eksperimen serta observasi yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman.
3.   Sejarah Peradaban Islam Sebagai Ilmu Pengetahuan
Berpijak dari pengertian-pengertian di atas, maka bisa didapat sebuah hubungan antara sejarah peradaban Islam dan ilmu pengetahuan.sesuatu bisa dikatakan sebagai ilmu pengetahuan apabila memenuhi kriteria-kriteria tertentu, yaitu:
a)    Memiliki obyek yang jelas
b)   Memiliki metode tertentu
c)    Disusun secara sistematis
d)   Menggunakan pemikiran yang rasional
e)    Kebenarannya bersifat objektif
f)    Memiliki tujuan.[6]
Dari kriteria-kriteria tersebut, nampaknya sejarah peradaban Islam diketahui telah memenuhinya. Hal ini dibuktikan dengan alasan-alasan berikut:
1)    Sejarah peradaban Islam membahas kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam dunia Islam di masa lampau. Dalam hal ini sejarah peradaban Islam sudah memiliki obyek yang jelas.
2)   Di dalam memperoleh informasi tentang sejarah peradaban Islam,dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu:
a)    Metode observasi
Sejarah peradaban Islam didapatkan dengan menggunakan metode observasi, melalui penelitian-penelitian yang dilakukan terhadap peninggalan-peninggalan sejarah yang dilakukan secara sistematis.
b)   Metode dokumenter
Dalam metode dokumenter, maka sejarah peradaban Islam didapat dengan mempelajari secara cermat dan mendalam segala dokumen, catatan ataupun dokumen-dokumen tertulis yang ada untuk mendapatkan keterangan yang diperlukan.[7]
Sedangkan dalam penulisannya, sejarah peradaban Islam melalui beberapa metode, yaitu:
a)    Metode deskriptif
Dengan menggunakan metode deskriptif, sejarah peradaban islam disajikan untuk menggambarkan keadaan pada masa lalu sesuai dengan sebagaimana adanya dan sesuai dengan urutan waktu kejadian, dengan tujuan untuk memahami yang terkandung dalam sejarah tersebut.
b)   Metode komparatif
Metode ini berusaha untuk membandingkan sebuah perkembangan peradaban Islam dengan peradaban Islam lainnya. Metode ini dimaksudkan bahwa ajaran-ajaran Islam tersebut dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dan berkembang dalam waktu serta tempat-tempat tertentu untuk mengetahui adanya persamaan dan perbedaan dalam suatu masalah tertentu.
c)    Metode analisis sintetis
Metode ini dilakukan dengan melihat sosok peradaban Islam secara lebih kritis, ada analisis dan bahasan yang luas serta kesimpulan yang spesifik. Dengan demikian, akan tampak adanya kelebihan dan kekhasan peradaban Islam. Hal tersebut akan lebih jelas dengan adanya pendekatan sintetis yang dimaksudkan untuk memperoleh kesimpulan yang diambil untuk memperoleh suatu keutuhan dan kelengkapan kerangka pencapaian tujuan serta manfaat penulisan sejarah peradaban Islam.[8]
3)  Sejarah peradaban Islam disajikan secara urut (sistematis) berdasarkan tahun kejadian, peristiwa yang mengawali hingga akhir dari peristiwa. Dalam hal ini sejarah peradaban Islam telah disusun secara sistematis.
4)  Kebenaran fakta sejarah peradaban islam diperoleh dengan dari penelitian sumber sejarah yang dikumpulkan dengan menggunakan rasio.
5)  Kebenaran fakta sejarah peradaban islam adalah objektif, karena dalam menyusun kisah sejarah harus berdasarkan fakta yang ada.
6)  Sejarah peradaban Islam disusun dengan tujuan untuk mengenang dan mempelajari kembali lintasan sejaran Islam masa lalu serta mengambil hikmah dan pelajaran untuk kehidupan masa kini.
Secara umum, sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, atau peristiwa unik dan berlaku hanya sekali dan tidak berulang untuk kedua kalinya. Bagi seorang Muslim, sejarah adalah rangkaian suatu peristiwa-peristiwa yang sedikitpun tidak mempengaruhi dasar-dasar Islam yang non-temporal. Ia lebih berkeinginan mengetahui “menyadari“ dasar-dasar ini daripada memperhatikan originalitas dan perubahan sebagai kebijakan intrinsic. Lambang peradaban Islam bukanlah sebuah sungai yang mengalir melainan Ka’bah, yang stabilitasnya melambangkan watak Islam yang permanen dan tak berubah.
Dalam pembahasan ini, sejarah Islam dilihat dari aspek seberapa besar sejarah peradaban islam dapat dijadikan sebagai ilmu pengetahuan merupakan tujuan dan hakikat yang sangat urgensi yakni :
1)   Refleksi
Agar ummat Islam saat ini dan generasi yang akan datang mampu memahami nilai-nilai penting islam yang sebenarnya. Ummat Islam harus menyadari secara mendalam bahwa kita (Ummat islam) memiliki peradaban besar yang melahirkan banyak ilmu-ilmu pengetahuan. Yang menjadi keprihatinan saat ini, bahwa umat Islam hanya memfokuskan diri pada aspek ritual, dan melupakan aspek social serta intelektual. Oleh karena itu, tugas daripada kita semua yang telah mengetahui bergeraklah mengajak dan menghimpun kembali umat untuk meneruskan peradaban besar yang sudah lama rapuh dan semakin melemah.
2)   Pemahaman
Pengetahuan, pemahaman terhadap sejarah Islam menuntut kita untuk membangun dan menghidupkan kembali peradaban yang telah lama terlelap tidur, yang akan mengubah pandangan dunia terhadap Islam. Jika kita tengok sekilas lahirnya peradaban besar ini, kita akan memahami bahwa terdapat dimensi utama yang menjadi dasar lahirnya peradaban Islam.



B.       Dasar-Dasar Peradaban Islam
Secara umum Ahmad Syalabi[9]Menjelaskan bahwa formasi peradaban Islam mewujud ke dalam tiga model berikut ini:
1.    Peradaban Negara dan Sejarah (hadharah al-duwal wa al-tarikh), yaitu pola dan bentuk peradaban yang mengembangkan bangunan suatu kenegaraan dan pemerintahan. Dalam banyak hal, telah banyak bermunculan pemerintahan dan Negara-negara Islam yang terus berupaya untuk meningkatkan dan mengayomi masyarakatnya dalam kemajuan di berbagai aspek kehidupan. Dalam hal ini kewajiban Negara tidak hanya mengayomi satu kabilah saja, tapi mencoba menjadi wadah keumatan. Fenomena ini merupakan perubahan sosial budaya dan politik yang sangat fundamental.
2.    Peradaban tajribiyah wa muqtasabah, yaitu peradaban luar yang diadopsi oleh islam, karena dalam banyak hal telah diketahui dan dicapai bermacam ragam manusia pada beberapa ratus atau bahkan beberapa ribu tahun sebelum islam lahir, seperti kemajuan dalam bidang filsafat, sastra, kedokteran, ilmu pasti, astronomi dan lainnya.
3.    Peradaban Islam yang asli (al-hadharah al-islamiyah al-ashylah), yaitu peradaban yang bersumber dan dibawa oleh kewahyuan islam sendiri dalam mengembangkan dan memberdayakan masyarakat manusia di mana sebelumnya tidak pernah ada. Seperti halnya pandangan Islam yang memberikan nilai penghargaan dalam mengangkat harkat dan martabat jiwa kemanusiaan pada posisi yang sangat tinggi. Peradaban seperti ini, sifatnya orisinil dalam menciptakan hal-hal yang baru (al-khulkh, al-ibda atau al-ibtikar). Manfaat peradaban yang asli ini dapat dinikmati, baik oleh umat Islam ataupun umat lainnya. Peradaban Islam yang asli ini, menurut Ahmad Syalaby meliputi beberapa aspek penting, di antaranya keimanan (akidah dan akhlak), politik (siyasah), ekonomi (iqtisad), kehidupan sosial (al-hayah al-ijtimaiyah) dan hubungan antar bangsa.

C.      Periodesasi Perkembangan Sejarah Peradaban Islam
Peradaban Islam adalah landasan historis yang mengkaji tentang keseluruhan kebudayaan dalam suatu periodisasi sejarah. Periodisasi sejarah sangat berhubungan dengan konteks ruang dan waktu yang sangat berpengaruh pada hasil karya, ide dan gagasan di masa yang lalu. Oleh karena itu dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat dimulainya sejarah islam. Secara umum, perbedaan pendapat tersebut dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah islam dimulai sejak Nabi saw. Diangkat menjadi rasul. Menurut pendapat ini, selama 13 tahun Nabi Muhammad saw tinggal di Mekkah telah lahir masyarakat muslim meskipun belum berdaulat. Kedua, sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah umat islam dimulai sejak nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah karena masyarakat muslim baru berdaulat ketika nabi Muhammad saw tinggal di Madinah. Karena Muhammad saw yang tinggal di Madinah, tidak hanya sebagai rasul, tetapi juga merangkap sebagai pemimpin atau kepala Negara berdasarkan konstitusi yang disebut Piagam Madinah. Disamping banyaknya perbedaan mengenai sejarah umat Islam ini maka para sejarawan juga berbeda dalam menentukan fase dalam periodisasi Islam ini salah satu contoh.
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution[10]Periodisasi sejarah Islam terbagi pada 3  periode :
1.         Periode klasik (650 – 1250 M)
Pada periode ini, disebut juga sebagai masa keemasan di dalam sejarah islam. Sebagai masa keemasan, masa ini sering dijadikan tolak ukur dan rujukan keteladanan. Masa Nabi saw yang hanya berlangsung kurang lebih 23 tahun. Pada periode klasik, arab sangat menonjol karena memang Islam hadir di sana. Pada masa klasik telah terwujud kesatuan budaya islam di bawah naungan Islam dengan bahasa arab. Pada masa ini Islam meliputi dua masa kemajuan yaitu: masa Rasululah saw, khulafaurrasyidin, bani umaiyah dan masa-masa permulaan daulah Abbasiyah. Masa itu merupakan masa perluasan wilayah yang dimulai oleh khulafaurrasyidin dilanjutkan Bani Umaiyah dan mencapai keemasan pada masa bani Abbasiyah yang membuat islam menjadi Negara besar. Di masa ini peradaban Islam tumbuh menjadi peradaban baru. Dari sisi perkembangan ilmu telah berkembang kajian-kajian teologi pada masa kini. Pada awal islam pengaruh helenisme dan juga filsafat Yunani terhadap tradisi keilmuan, Islam sudah sangat kental, sehingga pada saat selanjutnya pengaruh itupun terus mewarnai perkembangan ilmu pada masa-masa berikutnya.
2.         Periode Pertengahan (1250 – 1800 M)
Pada periode pertengahan muncul tiga kerajaan besar Islam yang mewakili tiga kawasan budaya, yaitu kerajaan usmani di Turki, kerajaan Safawi di Persia, dan kerajaan mughal di India. Kerajaan-kerajaan islam yang lain, meski juga ada yang cukup besar, tetapi jauh lebih lemah dibandingkan dengan tiga kerajaan ini, bahkan berada dalam pengaruh salah satu diantaranya. Kerajaan Mughal adalah kerajaan yang berdiri seperempat abad setelah berdirinya Kerajaan Safawi, jadi diantar ketiga kerajaan besar tersebut kerajaan mughal inilah yang termuda, walaupun kerajaan ini bukanlah kerajaan Islam yang pertama di anak benua India,Pada periode pertengahan, pembahasan yang paling banyak mendapat tempat adalah percaturan politik di pusat Islam dan peradaban yang dibina oleh dinasti-dinasti yang kebetulan berhasil memegang hegemoni politik, serta tiga kerajaan besar Islam (Usmani, Safawi, dan Mughal) dan peradaban yang dibinanya. Pada periode ini terjadi dua masa kemunduran dan masa Tiga Kerajaan Besar. Turki Utsmani, daulah Shafawiyah, dan Daulah Mongoliyah di India. Fase tiga kerajaan besar mengalami kemajuan pada tahun 1500 – 1700 M, dan mengalami kemunduran kembali pada 1700 – 1800 M.
3.         Periode Modern (1800 – sampai sekarang)
Pada masa ini telah terbentuk sistem masyarakat muslim yang bersifat global. Masing-masing dibangun berdasarkan interaksi antara institusi Negara Islam, keagamaan dan institusi Komunal Timur Tengah dengan institusi sosial dan cultural setempat, dan setiap interaksi melahirkan tipe kemasyarakatn Islam yang berbeda-beda. Meskipun setiap masyarakat bersifat khas (unique), namun diantara mereka terdapat kemiripan bentuk dan antar mereka dipertalikan oleh beberapa hubungan politik dan keagamaan dan oleh persamaan nilasi-nilai cultural. Dengan demikian mereka membentuk Islam yang bersifat global (mendunia). Pada periode ini umat islam banyak belajar dari barat dalam rangka mengembalikan balance of power. Dalam era ini islam mulai bangkit dengan melakukan pembaharuan.
Hal ini tentu berbeda dengan buku Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam yang membagi sbb:
1           Masa Kemajuan Islam (650 -1000M)
2           Masa disintegrasi (1000 – 1250 M)
3           Islam di Spanyol dan pengaruhnya terhadap Renaisans di Eropa
4           Masa Kemunduran
5           Masa tiga kerajaan Besar (1500-1800M)
6           Kemunduran tiga kerajaan besar (1700 – 1800 M)
7           Penjajahan Barat atas dunia Islam dan perjuangan kemerdekaan Negara-negara Islam.
8           Kedatangan Islam di Indonesia dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
Melihat gambaran di atas masih banyak lagi fase-fase lain yang di tulis kalangan sejarawan namun periode-periode ini sudah dapat memberi batasan terhadap pemahaman kita pada sejarah islam. Pada pembahasan kali ini hanya akan dibatasi pada masa klasik yaitu mulai dari zaman Kota Mekkah sebelum menjadi Islam sekitar abad ke 6 M sampai abad ke-12 M dan zaman pertengahan di awal abad ke 13 – 15 M serta pada zaman modern pada abad ke 15 – 18 M atau sampai zaman sekarangan ini karena pembahasan SPI diikat oleh ruang dan waktu maka kajiannya dapat fleksibel untuk melihat proses peristiwa di era dulu dengan memandang di era sekarang.
Dilihat dari alasan-alasan tersebut, maka sejarah peradaban Islam sudah dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena sudah memenuhi kriteria ilmu pengetahuan.
Diantara tujuan menjadikan sejarah perdaban islam sebagai ilmu pengetahuan adalah sebagai refleksi agar umat islam saat ini dan yang akan dating mampu memahami nilai-nilai penting islam yang sebenarnya. Umat islam harus menyadari secara mendalam bahwa kita pernah memiliki peradaban besar yang melahirkan banyak ilmu pengatahuan. Dan dapat bergerak, mengajak dan menghimpun kembali umat untuk meneruskan peradaban yang sudah lama rapuh dan lemah yang menjadi keadaan yang memprihatinkan seperti saat ini karena umat islam sekarang lebih focus dalam ritual dengan melupakan aspek social dan intelektual.
Dan juga menambah pemahaman terhadap sejarah peradaban islam untuk membangun dan menghidupkan kembali atau mengulang sejarah keemasan islam yang akan merubah pandangan dunia terhadap islam.


 



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sejarah peradaban islam adalah kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang dihasilkan dalam satu periode kekuasaan islam mulai dari periode nabi Muhammad saw sampai perkembangan kekuasaan islam saat ini yang berperan dalam melindungi pandangan hidup islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup bermasyarakat. Ilmu pengetahuan adalah deretan konsep dan skema konseptual yang berhubungan satu sama lain sebagai hasil eksperimen serta observasi yang diperoleh melalui pengalaman-pengalaman. Sejarah peradaban islam dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena telah memenuhi kriteria ilmu pengetahuan yaitu, memiliki obyek yang jelas, memiliki metode tertentu, sistematis dan bertujuan.
Dasar-dasar peradaban islam itu sendiri terbagi menjadi tiga model yaitu: peradaban Negara dan sejarah (hadharah al-duwal wa al-tarikh), Peradaban tajribiyah wa muqtasabah, dan peradaban Islam yang asli (al-hadharah al-islamiyah al-ashylah).
Sedangkan untuk periodesasi perkembangan peradaban islam terbagi menjadi tiga periode yaitu: Periode klasik (650 – 1250 M), Periode Pertengahan (1250 – 1800 M), Periode Modern (1800 – sampai sekarang).




DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
Bakri,syamsul. 2015. SejarahPeradaban Islam.Sukoharjo: IAIN press
Fu’adi, Imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Teras.
Santoso, M. A, dkk. Fattah. 2005. Studi Islam 3. Surakarta: LPID UMS.
Supriyadi, Dedi. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.



[1]Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), h. Iii.

[2] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2016), h.13-14.
[3]Dr.SyamsulBakri, M. Agp. SejarahPeradaban Islam.(sukoharjo, IAIN press, 2015). Hal. 1-3.
[4]Fattah Santoso dkk, Studi Islam 3, (Surakarta: LPID UMS, 2005), h. 28.
[5] Ibid., h. 31.
[6] Ibid., h. 30.
[7]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), h. 5.

[8]Ibid., h. 6.
[9]Ahmad Syalaby, Mauzu’ah al-Tarikh al-Islamy I, Makkah : Nahdhah al-Mishriyah, 1974, hlm. 23-25

[10]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1975, hlm. 11-13

close