7 Kesalahan Mental untuk anak muda untuk sukses - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

7 Kesalahan Mental untuk anak muda untuk sukses

Menjadi kaya ternyata dimulai dari pikiran. Sebelum fokus untuk meraih kekayaan, ada beberapa kebiasaan penghambat datangnya kekayaan yang perlu disingkirkan.

Dalam sebuah tulisan di The Wall Street Journal, Jonathan Clement -- pakar keuangan, mengungkap pentingnya memahami beberapa kebenaran yang tidak menarik, jika ingin sukses mengatur keuangan.

Nah, berikut ini adalah tujuh kesalahan mental yang harus diatasi bagi Moms yang ingin kaya.

1. Tak fokus pada masa depan

Kita sering mengabaikan pentingnya investasi jangka panjang, hanya demi keinginan sesaat.

Baik itu keinginan membeli ponsel, mobil, atau rumah baru, sering kali kita memenuhinya terlebih dahulu, daripada kebutuhan menabung.

"Bahkan, untuk menunda pembelian hanya selama 12 bulan, seseorang mungkin harus menawarkan insentif keuangan yang sangat besar," tulis Clements.

Mereka pun kerap terjebak iklim politik atau ekonomi yang tengah bergulir. Clement mengatakan, banyak orang menganggap penting masa kini tanpa memikirkan masa depan.

Padahal, banyak orang menyesal di masa pensiun, karena tak menabung sejak dini.

2. Benci kekalahan

Clement mengatakan, riset telah membuktikan rasa sakit yang kita dapat dari kerugian lebih dari dua kali lipat daripada kesenangan yang kita raih saat mendapatkan keuntungan.

Blok mental ini secara tidak sadar dapat mengarahkan kita untuk membuat keputusan investasi yang buruk, atau menghindar dari mengambil risiko yang berharga.

Clements memberikan contoh ketika kita membayar uang Rp1,5 juta saat kalah bertaruh dan mendapatkan jumlah yang sama saat memenangkannya.

Namun, dibutuhkan uang lebih dari itu bagi banyak orang untuk menyetujui tawaran itu.

Orang-orang benci kehilangan begitu banyak, mereka berusaha keras untuk menghindarinya, yang teradang justru merugikan mereka.

3. Terlalu percaya diri

Banyak orang berkata, kepercayaan diri adalah kunci. Tapi, kepercayaan diri perlu batasan.

Clements mengatakan, kita semua tidak bisa lebih baik daripada manusia rata-rata.

Terlalu percaya diri saat berinvestasi, kata Clements, membuat orang mengambil risiko yang kemudian mereka sesali.

"Ini mendorong kami untuk berdagang terlalu banyak," tulis dia. Menurut dia, memercayai bahwa kita dapat mengalahkan pasar akan mendatangkan risiko besar dalam investasi.
4. Merasionalisasi keputusan yang buruk

Selama masa hidup, kita akan membuat beberapa kesalahan finansial. Itu hal yang normal. Yang terpenting adalah keputusan kita untuk bangkit kembali.

"Alih-alih mengakui dan kemudian memperbaiki kesalahan, kita akan sering membuat alasan agar kesalahan terlihat rasional," tulis Clements.

"Kadang-kadang, gagasan bahwa 'saya baru saja membuat keputusan keuangan yang bodoh' mungkin berbenturan dengan gagasan 'saya pintar dalam menangani uang'," kata Clements.

Alih-alih berpura-pura itu bukan masalah besar, perbaiki masalah dan move on.

5. Membuat keputusan secara emosional

Ketika kita mengelola keuangan, menurut Clements, kita mungkin bersikeras meraih manfaat, dan yang ingin kita lakukan hanyalah menghasilkan uang.

"Tetapi sebenarnya, kita sering membuat keputusan karena alasan ekspresif atau emosional."

"Motivasi-motivasi lain ini dapat merusak tujuan kekayaan yang lebih besar,” kata Clements.

Jika kita ingin menjadi kaya, kita perlu menerapkan pandangan objektif untuk keputusan keuangan.

Kita mungkin merasa senang berinvestasi di reksa dana pada instansi yang bertanggung jawab secara sosial.

Atau mungkin, kita tergiur pada perdagangan saham dengan hasil yang instan. Tapi, tidak satu pun dari motivasi tersebut yang memperhitungkan apakah pilihan kita akan terbayar dalam jangka panjang.

6. Mengandalkan apa yang terasa benar

Clements mengatakan, kita sering mendasarkan keputusan pada informasi yang menonjol dalam pikiran kita.

Misalnya, adanya berita kecelakaan pesawat membuat kita lebih takut bepergian dengan pesawat daripada mengemudi.

Hal yang sama dapat terjadi pada keuangan kita.

"Kami mendengar banyak tentang legenda investasi Warren Buffett dan tentang pemenang tiket lotere."

"Kerena itu, kita cenderung berpikir memenangi lotere jauh lebih mungkin daripada yang sebenarnya," katanya.

Sebaiknya, kita melakukan riset sebelum membuat keputusan keuangan utama apa pun, dan mendasarkan pilihan pada fakta dan statistik.

7. Kurang mampu mengendalikan diri

Dengan sikap seperti ini begitu banyak peluang untuk berbelanja, dan kita cenderung menyepelekan menabung.

Sangat penting untuk mulai menabung sedini mungkin, jika kita ingin menjadi kaya.

Meskipun kita terlahir dari darah biru, Clements tetap menyarankan kita untuk menabung.

Ingatlah kedisiplinan sangat bermanfaat, hingga pada akhirnya, kita adalah satu-satunya yang bertanggung jawab atas keuangan pribadi.