MEMORIES - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MEMORIES


SINOPSIS



Dia hidup di dunia yang sudah sangat maju dalam teknologi. Bahkan para ilmuwan telah membuat semuanya menjadi sangat mudah. Gadis itu bernama Keyra Violana. Usianya masih tiga belas tahun. Anak itu sangat aktif dan selalu ingin tahu. Sayangnya Keyra tidak diperbolehkan keluar dari wilayah rumahnya.

Suatu ketika Keyra penasaran dengan mesin buatan Ayahnya. Meski sudah diperingati untuk tidak menyentuh barang pribadi milik Ayahnya tetap saja. Keyra adalah pribadi yang sangat keras kepala. Dan Keyra dalam masalah besar. Ia masuk ke dalam mesin waktu yang belum sempurna. Mesin itu membuat Keyra datang dari masa depan menuju abad ke-20. Keyra terseret kemasa lampau, dimana Ia belum direncanakan untuk lahir. Mungkin di abad ini ada kakek buyutnya, tetapi tak mungkin Ia menemukan kakek buyutnya dari berabad abad lamanya bukan?

Apapun yang terjadi ini konsekuensi yang harus Ia tanggung, baik atau buruk itu tetaplah tanggung jawab Keyra.



Dapatkah Keyra pulang?

Apa yang akan terjadi padanya??









----MEMORIES----


Keyra duduk di depan jendela kamarnya. Ia sangat bosan. Keyra sekolah dirumah, diajari oleh robot buatan Ayahnya. Keyra benci dikekang seperti ini. Mungkin jika dia ada dimasa lalu lebih menyenangkan ya?


TOK..TOK..

Keyra dapat menebak siapa yang datang ke kamarnya, yang pasti itu bukanlah pangeran berkuda dalam cerita yang Ia baca. Yap, itu adalah robot suruhan Ayahnya.

“Ohh tuan robot, Aku bosan. Bisakah kita tunda pembelajaran hari ini?”

“Maaf nona, anda tidak bisa menunda pelajaran. Anda harus disiplin seperti perintah tuan.” jawab robot dengan gaya bahasa yang menjijikan bagi Keyra.

“Kalau begitu aku izin ke toilet sebentar”

“Baik nona, tapi hanya 5 menit saja.” Ujar robot itu.



Keyra berlari secepat kilat. Ia menuju ruang kerja Ayahnya. Tetapi sesampainya disana, Keyra disuguhkan pemandangan yang menarik mata. Mesin besar itu sangat membuatnya penasaran. Keyra menyentuh mesin itu. Lagi-lagi keyra penasaran. Ia sangat ingin tahu tentang mesin di depannya. Keyra memencet tombol-tombol di mesin itu dengan asal. Mesin itu mengeluarkan kilat cahaya yang menyilaukan mata. Yang terakhir Keyra lihat hanya angka 20 yang tertulis di mesin itu. Lalu semua menghilang.

***

Keyra mengerjapkan mata beberapa kali. Ia tergeletak diatas rumput. Apa katanya tadi, rumput? Astaga,Keyra tak tau kalau rumput basah dan berbau khas seperti ini. Udaranya sangat sejuk, lebih sejuk daripada ac di rumahnya. Alam memanjakan matanya. Pohon-pohon hijau dan asri bergerak lambat tertiup angin yang lewat. Tapi pertanyaannya, Apa yang bisa Ia lakukan sendirian ditempat yang tak seharusnya ini?

Keyra memutuskan berjalan menuruni bukit, siapa tau Ia bisa menemukan penduduk disana. Keyra pun turun, dan benar. Disana ada perumahan penduduk yang terlihat sangat tua. Keyra menghampiri seorang penduduk desa yang tengah memberi makan dombanya. Sepertinya seusia Keyra, anak itu mengembalakan dombanya menuju bukit tempat Keyra muncul.





“Hei, bisa kamu bicara menggunakan bahasa Indonesia?”

“Tentu saja bisa” jawab anak gembala itu.

“Sebenarnya ini dimana?” pemuda itu mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Keyra.

“Kau bukan orang sini? Kau penyusupkan?!” ujar penggembala sambil mengangkat tongkat kearah Keyra.

“Aku dari masa depan. Aku masuk kemesin milik Ayahku yang belum sempurna. Lalu tiba tiba aku bangun di tempat ini. Bisa kau jelaskan sedikit tentang desa ini?” jelas Keyra dengan wajah polos. Sang penggembala menurunkan tongkatnya.

“Walau aku sedikit tak mengerti tentang penjelasanmu, aku percaya padamu. Berterima kasihlah!”

Keyra menurut “Terima kasih tuan penggembala”

“Namaku Sakara”

“Aku tidak bertanya itu” jawab Keyra seadanya.

“Aku hanya memberi tahu, ikutlah denganku. Aku akan memberi tahu sedikit tentang desa ini” Sakara berlalu dan Keyra mengikutinya.

***

Sakara membawa Keyra menuju rumah tua yang besar disana. Kata Sakara rumah itu adalah rumah adat minang kabau. Namanya rumah gadang. Bentuk rumah Gadang diibaratkan seperti bentuk kapal. Kecil di bawah dan besar di atas. Bentuk atapnya mempunyai lengkung ke atas, kurang lebih setengah lingkaran, dan berasal dari daun Rumbio (nipah). Bentuknya menyerupai tanduk kerbau dengan jumlah lengkung empat atau enam, dengan satu lengkungan ke arah depan rumah. Setiap elemen dari rumah itu memiliki simbolis tersendiri. Tetapi Sakara tak mejelaskannya. Karena Ia belum terlalu mengerti makna dari tiap unsur rumah tersebut.

Kemudian Sakara mengajak Keyra berjalan-jalan. Keyra mengiyakan ajakan Sakara. Sakara sedikit menceritakan tarian daerahnya. Yang menarik perhatian Keyra adalah salah satu tarian bernama tari Randai. Tari ini merupakan sarana menyampaikan cerita rakyat dari gerakan dan syair yang dilantunkan. Tapi sayang, tari itu hanya diadakan setahun sekali.





Karena terbawa oleh cerita Sakara, tak terasa mereka sudah sampai di hamparan sawah. Luas, hijau, dan menenangkan. Angin angin berhembus dengan damai. Inikah yang dinamakan ketentraman?

Ingin rasanya Keyra tinggal saja di masa ini. Tetapi Keyra tau, ia tak seharusnya disini. Dan Ayahnya masih membutuhkan putri semata wayangnya ini. Keyra seharusnya mencari jalan pulang. Tetapi apa daya? Ia hanyalah anak berumur 13 tahun yang belum mengerti apa apa. Meski Keyra sudah banyak belajar, tapi apa yang bisa Ia lakukan kan?



“Kamu kenapa?” suara Sakara menyadarkan Keyra dari lamunannya. Keyra hanya tersenyum.

“Kau pasti merindukan ayahmu bukan?”

Keyra mengangguk. “Ya, aku rindu padanya”

“Bagaimana jika kita mencari jalan pulang untukmu”

Mata Keyra berbinar, namun seperkian detiknya wajahnya kembali masam. “Memangnya kita bisa apa? Kita hanya anak-anak lugu yang tak tahu tentang apapun”

“Kali ini aku setuju padamu” ujar Sakara.

“Menurutmu, bagaimana dalam waktu 5 menit ini aku akan mati?” tanya Sakara.

“Tidak ada kematian yang terencana.”

“Ya, memang tidak. Tapi bagaimana jika itu ‘iya’ padaku?”

“Aku tak percaya.”

“Kamu akan percaya padaku nanti” Ujar Sakara.

Mata indah Keyra memandangi seekor kupu-kupu yang tak sengaja melintas. Baru kali ini Ia melihat kupu-kupu secara langsung. Keyra mengikuti kupu-kupu itu. Karena sangat kagum, Keyra sampai mengabaikan panggilan Sakara. Keyra hampir mendapatkan kupu-kupu itu. Tetapi, kaki Keyra terpeleset dan hampir jatuh. Sakara segera memegang pergelangan tangan Keyra.“Lepaskan saja aku, biarkan aku mati”



“Jika kau mati takdir dimasa depan akan berubah”

“Lebih baik masa lalu yang berubah tanpa adanya aku.” lanjutnya.

Sakara melemparkan Keyra ke daratan yang aman. Keyra selamat. Namun Sakara terpeleset jatuh ke tebing. Keyra berteriak.

“Key-key, aku akan kembali. Aku janji.”

Dan itu adalah kata terakhir yang diucapkan Sakara. Keyra menangis sejadi-jadinya. Baru kali ini Ia mendapat teman sebaik Sakara. Tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap gulita.

***

Seseorang bangun dari tidurnya dalam keadaan terlonjak kaget. Mimpi itu lagi, gumannya. Keyra sering sekali memimpikan dirinya saat masuk ke mesin waktu Ayahnya. Padahal, sudah 12 tahun sejak kejadian itu. Memori tentang Sakara, terus terngiang di kepalanya.

Hari ini Keyra keluar rumah tanpa kendaraan yang dirancang sedemikian rupa dengan energi listrik dan gaya magnetic. Ia ingin menikmati udara di taman dekat rumahnya. Keyra memandang sekitarnya. Keyra memejamkan matanya sambil duduk dikursi taman. Terdengar bunyi langkah kaki mendekat kearahnya. Keyra tak perduli itu.

“Hei”

Sepertinya ada yang menyapanya, dan mengapa suaranya terdengar familiar di telinga Keyra?

Penasaran Keyra, membuka mata. Menatap orang yang menyapanya tadi.



“Apa masih mengingatku?” ujar pria itu dengan senyum indahnya. Mata Keyra berbinar-binar dengan senyum yang mulai mengembang dibibirnya.



“SAKARAA!!!”



-----The End-----