Rupiah Menguat ke Level Rp14.000 per Dolar AS - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rupiah Menguat ke Level Rp14.000 per Dolar AS

Mata uang dolar Amerika Serikat diperdagangkan melemah di awal tahun 2019. Pada Senin (7/01), nilai tukar dolar terhadap rupiah bahkan melorot hingga ke level Rp14.035.

Rupiah sudah menunjukkan penguatan sejak Senin pagi. Pada perdagangan antarbank di Jakarta, pagi tadi, kurs dolar berada di level Rp14.103.

1. Senin siang, rupiah terus menguat


Hingga Senin siang, rupiah menunjukkan tren penguatan. Dikutip dari perdagangan Reuters  pukul 13.36 WIB, kurs dolar AS adalah Rp14.035.

Dikutip dari situs Antara, ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan, pelemahan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia, termasuk rupiah didorong oleh pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang "dovish".

2. Apa sih dovish itu?


Dovish merupakan kebijakan Bank Sentral yang condong untuk menunda kenaikan suku bunga atau melakukan kebijakan moneter longgar. Sementara lawan kata "dovish" adalah "hawkish."

"The Fed menyatakan lebih bersabar dalam menaikkan tingkat suku bunganya tahun ini dan lebih melihat arah pergerakan ekonomi Amerika Serikat sebelum mengambil keputusan untuk menaikkan tingkat suku bunga," papar Ahmad.

3. Faktor negatif lainnya membayangi pergerakan dolar AS


Ia menambahkan kemungkinan akan adanya perundingan perdagangan antara Amerika Serikat-China pada 7-8 Januari di Beijing turut menjadi faktor negatif bagi dolar AS. Ya, AS dan Tiongkok terlibat perang dagang--meski kedua negara sepakat "genjatan senjata" selama 90 hari sejak Desember lalu.

"Rupiah mendapatkan sentimen positif dari pelemahan dolar AS di pasar global itu," katanya.

4. Kondisi dalam negeri cenderung positif


Pengamat pasar uang dari Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova mengatakan, data ekonomi Indonesia yang terbilang positif masih menjadi salah satu faktor yang mendorong nilai tukar rupiah kembali menguat.

"Pada awal tahun ini kita sudah disuguhi data inflasi yang terkendali, serta realisasi pendapatan negara dalam APBN naik dibandingkan tahun 2017," ujarnya.

Menurut dia, pendapatan APBN yang meningkat menunjukan fiskal Indonesia yang sehat. Kondisi itu akan membuat investor melirik Indonesia sebagai tempat investasi.