Go fleet buatan go jek ancaman ??? - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Go fleet buatan go jek ancaman ???

Baru-baru ini PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) berkolaborasi dengan Astra Internasional, melahirkan sebuah fitur baru berbentuk penyewaan kendaraan, yang diberi nama Gofleet.


Kolaborasi dua perusahaan ini diumumkan pada 18 Juli 2019 di acara Gaikindo Indonesia International Show (GIIAS) 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang.

Menjaring mitra

Direktur Gofleet Pandu Adi Laras mengatakan, pangsa pasar utama Gofleet adalah para mitra jasa transportasi daring, seperti Gocar, yang belum punya mobil pribadi.

Ia menuturkan, pihaknya akan menyediakan kendaraan, perawatan, layanan perbaikan, bantuan darurat 24 jam, perlindungan asuransi, hingga monetisasi kendaraan melalui pemasangan iklan.

Untuk mendapatkan akses kendaraan, Pandu menjelaskan, seorang mitra harus lebih dahulu terdaftar di Gojek. Setelah itu, pihak Gojek akan mengarahkan mitranya ke Gofleet.


"Komitmen awal itu Rp1,5 juta. Tapi ada biaya lagi Rp1.180.000 per minggu. Biaya mingguan itu kami tariknya per hari sebesar Rp169.000 saja," ucapnya saat dihubungi Alinea.id, Kamis (25/7).

Pandu menuturkan, dengan Gofleet, mitra diuntungkan karena diberi pelayanan penuh untuk kendaraannya. Begitu pula dengan konsumen. Kata Pandu, dari segi tarif, tak akan ada perbedaan dari layanan Gocar biasa.
Pandu mengatakan, Gofleet akan beroperasi di wilayah Jabodetabek, sebagai tahap awal. Namun, calon mitra sudah bisa mulai mendaftar dan memenuhi persyaratan administrasi.
"Setelah Jabodetabek, layanan direncanakan akan mulai tersedia di kota-kota lain di seluruh Indonesia," ujarnya.
Untung dan buntung



Pada kenyataannya, perkembangan pesat transformasi transportasi berpengaruh besar terhadap sejumlah profesi dan usaha terkait. Salah satunya bagi pemilik usaha rental mobil. Hal itu diakui salah seorang pemilik rental mobil di bilangan Jakarta Selatan, Muchidin.
"Tentu (efeknya) ada penurunan pesanan apalagi pendapatan. Dulu biasanya semua unit mobil bisa tersewa nyaris setiap hari, sekarang hanya setengahnya saja. Hari-hari libur pun sepi," ujar Muchidin, Kamis (25/7).

Muchidin terpaksa menurunkan harga sewa mobil, terutama di hari-hari libur, seperti Lebaran. Mobil sewa yang paling murah, seperti Toyota Avanza dan Kijang Innova, yang sebelumnya dibanderol Rp300.000 per hari, kini diturunkan menjadi Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.

Sementara di hari libur Lebaran, yang biasanya memasang tarif Rp500.000 hingga Rp600.000 per hari, diturunkan menjadi Rp300.000 per hari.
"Sudah didiskon begitu pun tetap saja tidak laku," ucapnya.
Muchidin mengatakan, ia memiliki 12 unit mobil sewaan. Bila semua unit mobilnya tersewa dengan harga lama, ia bisa memperoleh keuntungan hingga Rp230 juta per tahun. Belakangan ini, kata dia, hanya setengah unit mobil yang disewa.
“Itupun harga sewanya sudah diturunkan. Jadi rata-rata keuntungan yang saya terima itu cuma Rp70 juta sampai Rp120 jutaan saja," tuturnya.

Muchidin lantas putar otak. Ia menyerah pada kenyataan. Akhirnya, ia menyewakan mobilnya kepada para mitra Gocar atau Grabcar.
"Dengan adanya mereka lumayan, membuat usaha saya tetap hidup," katanya.

Akan tetapi, kehadiran Gofleet yang merupakan fitur penyewaan kendaraan untuk mitra Gocar, menjadi ancaman anyar bagi usaha Muchidin. Ia menganggap, kehadiran Gofleet bisa-bisa menarik para pelanggannya memilih program kolaborasi Gojek dan Astra itu.
"Waduh, kalau begitu cukup mengkhawatirkan kehadirannya," ucapnya.
Berbeda dengan Muchidin, pemilik rental mobil ternama PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA Rent) justru menganggap kehadiran Gofleet bukan ancaman. Sekretaris perusahaan ASSA Rent Hindra Tanujaya mengatakan, ASSA Rent berbeda dengan Gofleet.
"Target marketing kami ke perusahaan-perusahaan yang tersebar luas di seluruh kota di Indonesia," ujar Hindra ketika dihubungi, Kamis (25/7).
Hindra mengatakan, perusahaannya kini juga sudah punya aplikasi tersendiri, yang memudahkan para pelanggan melakukan pemesanan sewa mobil.

Mengutip situs ASSA Rent, para kuartal I-2019, perusahaan ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp508,7 miliar, dengan laba bersih mencapai Rp31,384 miliar hingga 31 Maret 2019.

Bahkan pendapatan ASSA Rent tumbuh 10% year on year (yoy) atau menjadi Rp1,69 triliun, dengan laba bersih yang juga meningkat 39% yoy menuju Rp143,51 miliar hingga penghujung 2018.

Bisa menggilas angkot



Menanggapi kelincahan start-up unicorn seperti Gojek, pengamat transportasi dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengungkapkan, pengusaha rental mobil memang akan ikut menjadi korban keberadaan Gofleet.

Namun, Yayat menantang pelaku usaha rental mobil untuk turut mengikuti perkembangan zaman, agar tidak ikut tergerus.
"Berinovasi. Apakah dia mau jadi mobil rental wisata, apakah mobil Gofood, Gobox, terserahlah, karena sudah dihantam Gofleet. Kalau tidak berubah ya susah," katanya saat dihubungi, Kamis (25/7).

Selain rental mobil, menurut Yayat, Gofleet juga akan berdampak pada profesi dan pelaku usaha kecil transportasi lainnya, terutama angkutan kota (angkot) di daerah.
“Karena sistem layanannya lebih hebat dari angkot,” ujar Yayat.

Menurut Yayat, setoran Gofleet yang hanya Rp169.000 per hari atau Rp4,8 juta per bulan, lebih murah separuhnya dari setoran angkot di daerah, yang bisa Rp300.000 hingga Rp400.000 per hari.

Hal itu, kata Yayat, tak hanya membuat konsumen beralih. Gofleet juga akan menarik sopir angkot, ramai-ramai beralih profesi menjadi mitra jasa transportasi daring. Apalagi, kata dia, janji Gofleet bakal menghadirkan ribuan unit mobil.
"Kalau 1.000 unit di Jabodetabek saja, untuk satu kota sudah dapat 200-an mobil, dan itu sudah bisa membuat orang meninggalkan angkot. Mengingat persyaratan yang mudah dan murah, jadi lapangan kerja baru bagi mereka," tuturnya.
Lebih lanjut, Yayat menuturkan, jika angkot di sebuah daerah sepi, akibatnya akan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Angkot di beberapa daerah, kata Yayat, bahkan sudah mulai habis.

Yayat mencontohkan, di Bogor dari total keseluruhan sekitar 5.000 unit angkot yang ada pada 2017, di akhir 2018 menyusut tinggal 3.150 unit. Dampaknya, ujar Yayat, terjadi penurunan pendapatan asli daerah Kabupaten Bogor, terutama sektor retribusi.

"Pemerintah itu bertanggung jawab dalam pelayanan publik seperti angkutan umum. Kalau angkot daerah mati, berarti pemerintah daerah gagal dari segi itu,” tuturnya.

Seharusnya, menurut Yayat, pemerintah daerah bekerja untuk memberikan bantuan terhadap pengembangan dan peningkatan angkutan umum, agar tarif lebih murah, menjangkau perumahan warga, dan layanannya maksimal.

“Seperti TransJakarta,” ujar Yayat.