Upaya Mempertahankan Bahasa Lampung Yang Akan Punah - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Upaya Mempertahankan Bahasa Lampung Yang Akan Punah

Pakar bahasa dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. H. Edi Subroto, menyatakan bahwa dari hasil penelitian yang dilakukan Jurusan Bahasa UNS menyebutkan bahwa bahasa daerah yang terancam punah bisa mencapai 700
bahasa. “Dari hasil penelitian kami, jumlah bahasa daerah yang rawan punah sangat banyak. Sedikitnya 700 bahasa daerah bisa punah dalam waktu sesaat jika tidak ada
upaya untuk merawatnya,” ungkapnya. (Lampung Post, 4-4)


Salah satu penyebab lunturnya bahasa daerah, lanjut Edi, adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing dibandingkan dengan bahasa daerah. Mereka juga enggan untuk menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian. Demikian pula dengan masyarakat kota Bandar Lampung yang merasa derajat bahasa Lampung tidak begitu tinggi sehingga mereka enggan untuk menggunakan bahasa Lampung dalam bahasa sehari-hari mereka. Pemerhati bahasa Lampung, Agus Sri Danardana, mengemukakan jumlah penutur bahasa Lampung di wilayah ini semakin turun dan diperkirakan jumlahnya hanya sekitar 1,19 juta orang. Jumlah penutur bahasa daerah yang menurun itu berdasarkan jumlah penduduk asli Lampung saat ini.


"Jumlah penuturnya semakin berkurang mengingat banyak warga asli yang tak lagi mengenalkan penggunaan bahasa ibu ke anak anak mereka, serta mengalihkannya ke penggunaan bahasa Indonesia," ujar mantan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung tersebut. Hal itu menjelaskan bahwa saat ini sudah jarang keluarga di Lampung yang memperkenalkan dan membiasakan anak-anaknya untuk menggunakan bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, faktor banyaknya pendatang dari luar Lampung membuat bahasa asli Lampung tergeser. Pendatang yang kebanyakan berasal dari Jawa menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi mereka dengan penutur asli bahasa Lampung sehingga bahasa yang berkembang dan akhirnya dominan dalam masyarakat Lampung adalah bahasa Indonesia. Bahasa Lampung awalnya dipergunakan di daerah keresidenan Lampung, di daerah Komering yang termasuk dalam keresidenan Palembang juga di daerah Krui. Menurut Van der Tuuk, dalam Bambang Suwondo (1983), bahasa Lampung dapat dibagi dalam dua induk dialek yaitu dialek Abung dan dialek Pubian. Namun dalam buku yang sama, Dr. Van Royen membagi bahasa daerah Lampung itu dalam dua dialek
yaitu “dilek nyow” dan “dialek api”. Tapi sebenarnya dalam bahasa sehari-hari kita dapat membedakan antara dialek yang ucapannya banyak memakai kata-kata “a” dan dialek yang banyak memakai kata-kata “o”. Dialek “a” digolongkan dalam “Belalau”,
sedangkan dialek “o” atau “ou” digolongkan dalam dialek Abung. Sebagai contoh,
Dialek “a”: Kak saka ngakalinding haga bancong nyak rabai Mak hina gering nuntun
bungan di tangkai. Dialek “o”: Kak sakou ngekelinding agou bacceng nyak ngabai Mak
inou atei buguh ngebekem di tangkai. Dalam bahasa Indonesia artinya adalah: “Sudah lama mendekat terus terang saya takut, tak demikian hati ingin menggenggam bunga di
tangkai”.


Sebenarnya antara kedua dialek itu tidak begitu banyak memiliki perbedaan.
Jika dihitung masyarakat penggunanya, dialek “a” lebih banyak dipakai daripada dialek
“o”. Selain antara kedua dialek tersebut, terdapat juga dialek campurannya “a” dan “o”
yang terbentuk dari pengaruh setempat lalu menjadi dialek “e”. Dialek ini nampak pada bahasa Lampung Kayu-agung. Jika kita menggabungkan hasil penelitian Walker dan Vam Royen, maka bahasa daerah Lampung bisa kita bagi dalam dialek langsung dengan perbedaan adat istiadat masyarakat, sebagai berikut:
 Lokasi pengguna dialek “a” atau Belalau berada di tengah masyarakat Beradat Peminggir di daerah; Melinting Maringgai, Pesisir Raja Basa, Pesisir Teluk, Pesisir Semangka, Pesisir Krui, Belalalu/Ranau, Komering, Kayu-agung. Pengguna lainnya adalah masyarakat Beradat di daerah; Way-kanan, Sungkay, Pubian.


Sementara lokasi pengguna dialek “o” atau Abung, hanya berada di tengah masyarakat Beradat Pepadun yang tinggal di daerah Abung dan Tulangbawang. Bahasa Lampung, baik dialek “a” maupun “o”, tidak memiliki tingkatantingkatan perbedaan dalam pemakaian bahasa seperti “undak usuk basa” dalam bahasa Sunda. Hanya cukup mengganti kata ganti orang dalam pembicaraan antar sesama orang muda, antar orang yang muda dengan orang yang tua, atau antar sesama orang tua. Untuk menunjukkan kesopanan dalam pembincangan dengan orang yang tua, cukup dengan melemahkan intonasi atau tekanan pengujaran. Kini bahasa Lampung hanya menjadi bahasa komunikasi dalam kerabat yang terbatas pemakaianya, yaitu hanya dipakai di rumah, di kampung-kampung penduduk asli antar sesamanya, dan di waktu permusyawarahan adat, hal ini sangat disayangkan. Bahkan bahasa Lampung belum bisa eksis dalam perkembangan teknologi, karena
software kamus Bahasa Lampung-Indonesia belum mendapat banyak sumbangsih entri data dari masyarakat penggunanya. Padahal menurut Prof Chaedar Alwasilah, guru besar UPI Bandung, pembiasaan penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari dan dalam pengajaran bahasa terhadap anak di Sekolah Dasar dan Menengah, sangatlah penting.


Hal ini dikarenakan dalam bahasa tidak hanya terdapat aspek komunikasi saja, melainkan menyangkut juga aspek-aspek di dalam budaya daerah tersebut, seperti pandangan hidup, ilmu pengetahuan, seni sastra dan lain-lain. Dengan kata lain, jika sebuah bahasa telah kehilangan penggunanya, maka hilang pula kebudayaan pengguna bahasa tersebut. Bahasa Lampung sudah sangat jarang digunakan oleh masyarakat Lampung dalam situasi informal yang santai karena mereka cenderung menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka. Meskipun demikian, terkadang bahasa Lampung masih bertahan dan digunakan dalam situasi-situasi tertentu. Salah satunya adalah pada saat upacara adat pernikahan. Itupun tidak satu acara penuh menggunakan bahasa Lampung dari awal hingga selesai. Bahasa Lampung biasanya hanya diselipkan pada saat prosesi pemberian gelar untuk kedua mempelai.


Di luar itu, keseluruhan acara menggunakan bahasa Indonesia. Dari hasil observasi yang dilakukan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pergeseran bahasa daerah Lampung. Berdasarkan hasil-hasil yang telah diamati di berbagai tempat di kota Bandar Lampung, faktor-faktor tersebut seperti loyalitas bahasa, konsentrasi wilayah pemukiman penutur, pemakaian bahasa pada ranah tradisional sehari-hari, kesinambungan peralihan bahasa-ibu antargenerasi, pola-pola kedwibahasaan, mobilitas sosial, sikap bahasa dan lain-lain. Selain itu juga dapat berupa kekuatan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, kelas sosial, latar belakang agama dan pendidikan, hubungan dengan tanah leluhur atau asal, sikap kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, perkawinan campur, kebijakan politik pemerintah terhadap bahasa dan pendidikan kelompok minoritas, serta pola pemakaian bahasa. Sekolah sering juga dituding sebagai faktor penyebab bergesarnya bahasa ibu. Hal ini dikarenakan sekolah biasanya mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak. Pergerseran bahasa juga dapat diamati dibeberapa sekolah di kota Bandar Lampung. Kurikulum pada sekolah-sekolah di Lampung masih memasukkan bahasa Lampung dalam pelajaran Muatan Lokal sebagai bahasa daerah yang harus dipelajari murid hingga tingkatan SMP. Untuk tingkatan SMA, bahasa Lampung sudah tidak lagi ada di dalam kurikulumnya.




Namun dapat dilakukan usaha seperti menciptakan kegiatan yang kaya akan penggunaan bahasa Lampung dalam pembelajaran bahasa Lampung di sekolah adalah hal yang sangat memungkinkan untuk mempertahankan bahasa Lampung dan agar bahasa Lampung semakin dicintai oleh penutur maupun pembelajarnya. Kegiatan-kegiatan pengguanaan bahasa lampung dapat dilakukan pada saat jam pelajaran, yaitu: sebelum pembelajaran atau pun ketika jeda waktu belajar. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan pada saat tersebut adalah: menyanyi, bercerita, berpantun, pertunjukan satu menit, tunjukkan dan ceritakan (show and tell), puisi, cerita lucu, kuis, dan tebak-tebakkan. Sebagian masyarakat di daerah Lampung masih menggunakan Bahasa Lampung di dalam keluarga sebagai alat komunikasi keluarga. Mereka menggunakan Bahasa Lampung dan menciptakan suatu komunitas kecil untuk menggunakan bahasa Lampung sebagai percakapan sehari-hari. Hal ini berarti bahwa setiap anggota keluarga didorong untuk melakukan pemantapan kedwibahasaan dikarenakan mereka harus menguasai berbagai bahasa. Festifal seni dan budaya Lampung telah rutin digelar setiap tahunnya dalam Festival Krakatau. Dalam festival ini diselenggarakan berbagai macam lomba mulai dari tari, pantun, puisi, menyayi, dsb. Dalam hal ini masyarakat tidak hanya dituntut untuk mengikuti lombanya saja namun juga dituntut untuk dapat berdiskusi dengan menggunakan bahasa lampung. Menurut guru besar ilmu bahasa Universitas Indonesia (UI) Multamia Lauder dalam Kongres Bahasa Daerah Indonesia di Bandar Lampung, November 2007, saat ini tercatat hanya 13 bahasa daerah yang penuturnya (orang yang terus menggunakannya) lebih dari 1 juta orang. Ke 13 bahasa daerah itu adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Minangkabau, bahasa Madura, bahasa Bugis, bahasa Makasar, bahasa Batak, bahasa Melayu, bahasa Aceh, bahasa Lampung, bahasa Rejang (Bengkulu), bahasa Sasak, dan bahasa Bali. (okezone.com/12 November 2007).


Beruntung, bahasa Lampung termasuk satu dari 13 bahasa tersebut sehingga masih termasuk kategori aman. Sedangkan menurut ahli bahasa, kalau tidak dilestarikan, bahasa Lampung akan punah dalam tempo lebih kurang 70 tahun mendatang. Oleh karena itu, dilakukan berbagai upaya untuk melestarikan bahasa Lampung dengan membuat Undang-Undang dan Perda, di antaranya, dan yang paling konkret adalah dengan mengajarkan bahasa Lampung di sekolah-sekolah. Masalahnya, upaya pelestarian bahasa Lampung tidak cukup hanya dengan membuat Undang-Undang, Peraturan Daerah dan mengajarkan bahasa tersebut di sekolah. Untuk itu perlu ada tindakan konkret lainnya.



Untuk 95 mencegah punahnya bahasa Lampung diperlukan sebuah tindakan konkret yang bukan hanya sekadar Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Misalnya dengan menciptakan
gerakan “Bangga Berbahasa Lampung” dimulai dengan mewajibkan PNS dan pejabat berbahasa Lampung dalam dinas dan mewajibkan penggunaan bahasa Lampung di setiap sektor layanan publik sehari-hari. Pemerintah Lampung Tengah (Lamteng) menggagas peraturan daerah yang mewajibkan penggunaan bahasa Lampung di lingkungan pemda setiap seminggu sekali. Ini bertujuan memasyarakatkan penggunaan bahasa Lampung yang perlahan kini mulai tersisihkan. "Kami tengah berkonsultasi dengan tokoh-tokoh adat untuk memperjuangkan ini menjadi perda. Idenya, setiap hari Jumat, di kantor-kantor, diwajibkan memakai bahasa Lampung untuk percakapan," ungkap Bupati Lamteng, Mudiyanto Thoyib. Ide mewajibkan penggunaan bahasa Lampung ini didasari kenyataan pahit bahwa Bahasa Lampung lambat laun tidak lagi dipergunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Kalau pun ada, itu pun fungsinya hanya sapaan. Kondisi ini jauh berbeda dengan daerah lainnya misalnya Sumatera Selatan atau Jawa di mana bahasa daerah masih aktif dipergunakan. Dengan makin seringnya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, secara perlahan penggunaan Bahasa Lampung oleh orang Lampung sendiri makin berkurang bahkan cenderung ditinggalkan. Sementara para pendatang yang bisa jadi punya animo untuk mempelajarinya, karena lebih sering diajak berbicara memakai bahasa Indonesia, maka kecil sekali peluangnya untuk bisa belajar dan cepat menguasai serta mempergunakannya. Yang terjadi kemudian, bukan bahasa Indonesia sebenarnya yang dipakai sebagai bahasa pergaulan di Lampung, melainkan Bahasa Betawi. Sehingga menjadi hal yang aneh dan nyeleneh, karena yang terdengar orang-orang berbicara memakai bahasa Betawi tapi logat Lampungnya masih kentara (begitu kental). Dengan lebih seringnya bahasa Betawi yang dipakai ketimbang bahasa Lampung, khususnya di daerah perkotaan (ibukota kabupaten/kota) seperti Bandar Lampung, Metro, Kotabumi, Bukitkemuning, bahkan Liwa, menimbulkan kekhawatiran Bahasa Lampung terancam punah.


SIMPULAN



Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Bahasa Lampung mengalami pergeseran bahasa yang kemudian akan mengalami
96 kepunahan jika tidak dilestarikan secara optimal. Hal ini disebabkan karena masyarakat Lampung asli bukanlah sebagai mayoritas, kenyataan menunjukkan bahasa Lampung tidak menjadi tuan rumah di daerah sendiri. Orang Lampung tidak percaya diri memakai bahasa Lampung dalam berkomunikasi, terlihat juga orang Lampung asli tidak mampu memengaruhi pendatang menggunakan bahasa Lampung. Jika ini terus terjadi, tentu saja bahasa Lampung akan menjadi bahasa yang ditinggalkan oleh penutur. Upaya pemertahanannya pun masih terpusat pada ranah pendidikan. Seharusnya semua ranah juga harus disentuh, yakni pada ranah keluarga dan ranah masyarakat. Setelah dipelajari di sekolah sebagai bahan pelajaran, anak didik juga menggunakannya dalam komunikasi sesama anggota keluarga di rumah dan juga di lingkungan sosial, terutama pada keluarga dan lingkungan sosial yang masih aktif berbahasa Lampung. Masyarakat dan pemerintah sudah menyadari betapa pentingnya upaya pemertahanan bahasa Lampung yang sudah tergolong bahasa yang lemah. Namun tindakan pemertahanannya masih sebatas sebagai bahan ajar. Semestinya pemerintah sebagai lembaga penanggung jawab semakin intens dengan mengadakan kegiatan yang bernuansa bahasa Lampung, sebagai media aplikatif hasil pengajaran bahasa Lampung di sekolah. Semua elemen, yakni pemerintah, pendidik dan masyarakat, harus bekerja sama, dan berkontribusi dalam pemertahanan bahasa Lampung. Saling mendukung satu dengan yang lain sehingga bahasa Lampung terhindar dari bahaya kepunahan, demikian juga fungsi-fungsi bahasa Lampung dalam kehidupan sosial budaya dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Termasuk penanaman nilai-nilai karakter.