Harga Kelapa Sawit Naik kembali - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Harga Kelapa Sawit Naik kembali

Harga crude palm oil (CPO) dunia dalam dua tahun terakhir sempat menyentuh level terendah, seharga USD 477,5 per metrik ton. Kondisi ini berpengaruh besar terhadap harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani Kaltim. Pada 2018, harga TBS pernah berada di angka Rp 1.081 per Kg. Sementara pada 2019 paling rendah berada di angka Rp 1.171 per Kg.

Di awal tahun ini, harga TBS akhirnya meningkat dan mencatatkan nilai tertinggi sejak 2018. Yakni di level Rp 1.787 per Kg. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, penguatan harga TBS tidak lepas dari perbaikan harga CPO dunia. Sepanjang tahun ini harga CPO diprediksi menguat hingga 16 persen pada periode Januari–Juni 2020.

Perbaikan harga CPO sudah terjadi sejak semester II 2019. Puncaknya pada Januari 2020 dengan menyentuh USD 880 per metrik ton. Namun, harga tersebut sedikit melemah pada Februari menjadi USD 830 per metrik ton. “Tapi harga CPO rata-rata pada awal 2020 masih jauh lebih baik dibandingkan rata-rata periode tahun lalu. Ini turut mendongkrak harga TBS,” jelasnya, Selasa (11/2).

Djafar mengatakan, memasuki 2020 kondisi iklim membaik sehingga harga cukup tinggi. Iklim tahun ini akan normal dan lebih baik dari 2019. Musim kemarau diprediksi berlangsung mulai April-Mei. Harga TBS diyakini akan terus membaik karena pemerintah menunjukkan komitmennya untuk mengimplementasikan B30 pada 2020.

Langkah ini juga menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia sangat serius dan dampaknya akan sangat besar terhadap perdagangan minyak nabati dunia dan perdagangan minyak di dalam negeri. “Kita masih bisa gencar meningkatkan ekspor. Sebab permintaan CPO dunia diprediksi mengalami peningkatan dari 78,2 juta ton di 2019 menjadi 80–81 juta ton pada 2020,” katanya.

Menurutnya, pertumbuhan produksi CPO dunia yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan konsumsi berimplikasi pada menipisnya stok CPO di pasar global yang diperkirakan hanya 2–3 juta ton pada September 2020 mendatang. Hal itu akan menguatkan harga CPO pada periode Januari-Juni tahun ini hingga 16 persen. Sehingga harga TBS di tingkat petani juga akan meningkat.

“Harga TBS yang dihitung pasti menggunakan unsur harga CPO. Ketika CPO terus menguat harga TBS pasti mengikuti,” tuturnya. Apalagi terbukanya tujuan-tujuan ekspor baru akan lebih menjamin pasar minyak sawit di pasar global. Hal ini membuat pelaku usaha tetap optimistis pada 2020 industri sawit memiliki prospek yang baik.

Dengan adanya tantangan-tantangan peluang pasar ekspor maupun domestik dalam negeri serta adanya iklim usaha yang lebih berpihak kepada peningkatan investasi, maka program kerja seluruh stakeholder sawit tahun ini perlu difokuskan pada peningkatan produktivitas.

“Selain itu juga dibutuhkan dorongan pengembangan ekspor terutama di negara tujuan ekspor baru dan penanganan berbagai hambatan perdagangan di pasar global. Sehingga harga CPO stabil, berujung pada kestabilan harga di tingkat petani kita,” pungkasnya. (ctr/ndu/k18)

PENANTIAN PANJANG

Membaiknya harga CPO dunia dan berjalannya program B30 sukses mengerek harga tandan buah segar kelapa sawit di level petani. Pada Januari 2020, harganya mampu menyentuh level tertinggi. (pro)

2019

Harga TBS (Rp/Kg)

Januari 1.171

Februari 1.258

Maret 1.302

April 1.287

Mei 1.236

Juni 1.197

Juli 1.173

Agustus 1.177

September 1.242

Oktober 1.250

November 1.331

Desember 1.553

2020

Januari 1.787

Sumber: Disbun Kaltim
close