Kapan Virus Corona Berakhir ? - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kapan Virus Corona Berakhir ?

Setidaknya ada enam negara telah berhasil sembuhkan warganya dari infeksi virus corona.

Negara yang berhasil sembuhkan warganya dari infeksi virus corona itu adalah Cina, Korea Selatan, Italia, Iran, Vietnam, dan Amerika Serikat (AS).

Enam negara itu memiliki strategi masing-masing untuk berhasil sembuhkan warganya dari infeksi virus corona.


Yang menjadi pertanyaan publik adalah, sampai kapan kondisi wabah virus corona ini akan berakhir?

Seperti halnya virus-virus sebelumnya, virus corona juga pasti akan berlalu layaknya virus flu burung, SARS, dan MERS.

Ahli dari China mengungkapkan dua kemungkinan bagaimana kasus virus corona akan berakhir di dunia.

Peta penyebaran virus corona hingga Rabu 4 Maret 2020 pukul 17.56 Wita. (thewuhanvirus.com)

Sebelum membahas penuturan ahli dari China tersebut, diketahui virus corona kini sudah menjangkit 73 negara, termasuk Indonesia.

Sementara jumlah kasus yang tercatat kurang lebih 90.872 kasus dan di Indonesia sendiri dua WNI dinyatakan positif virus corona.

Terkait semakin meluasnya penyebaran virus corona, baik pihak pemerintah maupun para ahli menghimbau warga untuk tidak panik.

Berikut penjelasan lengkap terkait kapan virus corona akan berakhir dan mengapa manusia tak perlu khawatir menurut ahli.

Dilansir Tribun Style dari New York Times dalam artikel "Flu Burung Ada Masa Berakhirnya, Lantas Kapan Virus Corona Berlalu? Ahli Bongkar 2 Kemungkinan Ini".

Ilustrasi virus corona - Virus Corona Telah Bermutasi, Ilmuwan China Identifikasi Dua Jenis Covid-19 (Pixabay)

1. Peluang Sembuh Tinggi

Menilik data kasus virus corona terbaru, pihak pemerintah menghimbau masyarakat untuk tidak panik berlebihan.

Hal ini dikarenakan virus corona masih bisa disembuhkan dengan perawatan medis yang tepat.

Tercatat korban meninggal akibat terjangkit virus corona menjapai 3.117 jiwa.

Angka tersebut memang terbilang tinggi, namun jika dibandingkan dengan penderita yang sembuh, perbandingannya pun sangat mencolok.

Dari 90 ribu lebih kasus virus corona, 48 ribu diantaranya dinyatakan sembuh setelah menjalani perawatan.

2. Panik Justru Akan Tingkatkan Resiko Tertular

Sementara itu, pihak World Health Organization (WHO) meminta warga untuk tidak panik, namun tetap waspada.

Bukan tanpa alasan, pasalnya para ilmuwan dan otoritas kesehatan memastikan satu hal terkait kasus virus corona.

Walau pun virusnya berpeluang mematikan, namun mayoritas orang yang terinfeksi sejauh ini hanya mengalami gejala ringan dan bisa sembuh total.

Hal itu penting untuk dipahami untuk mencegah kepanikan global dan mendapatkan gambaran yang lengkap tentang kemungkinan penularan.

Pakar virology dari Universitas Hong Kong, Dr Jin Dongyan mengatakan kepanikan hanya menambah peluang penularan virus corona.

"Mayoritas orang sekarang panik, dan sebagian besar malah meningkatkan risiko," kata Dr Jin Dongyan, dikutip dari New York Times via Intisari.

3. Dua Kategori Kasus

Kasus Covid-19 dibedakan menjadi dua, yakni kasus berat dan ringan.

Kasus ringan melibatkan pneumonia, penyakit infeksi pada paru, atau ada komplikasi pneumonia ringan.

Sementara kasus yang berat memiliki gejala sesak napas, saturasi oksigen darah rendah, atau gangguan paru.

Adapun pasien dikatakan berada dalam kondisi kritis ketika mengalami gagal napas, shock septik, atau disfungsi organ.

Sejauh ini di China, kasus yang tergolong berat kurang dari 14%, dan kritis kurang dari 5%.

Sedangkan secara umum angka kematian akibat virus ini di China yakni 2,3%.

Kendati dekimikian, gejala yang ringan ternyata memiliki sisi negatif karena membuat para ilmuwan lebih sulit untuk dikenali dan pasien tidak berobat ke dokter.

Selain itu, seseorang bisa saja terinfeksi tetapi tidak menimbulkan gejala apa pun.

Menurut Dr Jin Dongyan, orang yang mengalami gejala virus Corona ringan, secara umum sulit dibedakan dengan orang yang sakit flu biasa atau salesma.

"Gejalanya bisa sangat ringan, seperti nyeri tenggorokan."

"Lalu setelah satu 2 hari sembuh. Bahkan pada pasien yang ke dokter, gejalanya tidak dikenali karena sangat ringan, seperti flu," ujarnya.

Ilustrasi virus corona (Freepik)

4. Kapan Virus Corona Berakhir?

Sementara itu tak ada jawaban pasti terkait kapan virus corona akan berakhir di dunia.

Namun, Dr Jin Dongyan memastikan jika virus corona nantinya akan hilang dengan sendirinya, seperti gejala flu biasa.

"Gejalanya akan hilang sendiri, sama seperti flu atau salesma," kata Dr Jin Dongyan.

Hal tersebut juga berarti bisa saja orang yang sebenarnya terinfeksi virus Corona masih dapat beraktivitas seperti biasa.

Bahkan penyebaran virus pun bisa terjadi tanpa disadari.

Dari fenomena tersebut, para ahli memperkirakan akan ada dua kemungkinan terkait akhir wabah Covid-19 ini.

Yaitu lama-lama akan tidak menular lagi, atau virusnya mati, sama seperti SARS san virus-virus sebelumnya.

Alternatif lain, Covid-19 akan hidup bersama manusia, kadang hilang dan timbul sesuai musim, sama seperti influenza.

"Dalam situasi tersebut, orang harus belajar untuk hidup bersama virusnya dan terkadang akan menimbulkan gejala, tetapi lama-kelamaan virusnya akan kehilangan bahayanya."

"Seiring waktu, para ilmuwan juga bisa mengembangkan vaksinnya," katanya.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Kapan Virus Corona Berakhir? Ahli dari China Ungkap 2 Kemungkinannya, Masyarakat Tak Perlu Khawatir

WNA Dirawat di RSPI Sulianti Saroso Dipulangkan

SEORANG Warga Negara Asing (WNA) yang sempat menjalani perawatan di ruang isolasi Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dipulangkan.

Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso dr Mohammad Syahril mengatakan, WNA tersebut dipulangkan setelah dinyatakan sembuh seusai menjalani perawatan sejak Selasa (3/3/2020) lalu.

"Ada yang pulang satu karena dinyatakan sembuh, warga negara asing," kata Syahril, Kamis (5/3/2020).

Menurut Syahril, WNA itu diisolasi karena memiliki riwayat mengunjungi negara yang terjangkit virus corona.

Sehingga, yang bersangkutan masuk kategori pasien dalam pengawasan.

"Ketika masuk ke sini dia ada batuk, demam, dan datang dari daerah yang terjangkit."

"Orang yang kontak atau pergi ke daerah terjangkit belum tentu mereka positif," ucap Syahril.

Sementara, hingga saat ini pasien yang diisolasi di RSPI Sulianti Saroso berjumlah sembilan orang, di mana sebelumnya sempat menyentuh angka 11 orang.

Jumlah sembilan orang tersebut terdiri dari tujuh orang pasien yang dalam kategori pengawasan.

Sedangkan dua pasien tersisa adalah mereka yang positif terinfeksi virus corona.

Sebelumnya, dua warga Depok yang dirawat di ruang isolasi, baru mengetahui kabar dirinya positif terjangkit Virus Corona, dari pengumuman Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Senin (2/3/2020) lalu.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso Mohammad Syahril.

Ia menuturkan, pihak rumah sakit mempunyai alasan tersendiri mengapa tidak mengabarkan pasien terlebih dahulu sebelum diumumkan oleh Presiden Jokowi.

"Jadi betul (informasi tersebut). Jadi ini kan wabah ya."

"Kalau pengumuman wabah ada aturan siapa yang harus berbicara pertama kali."

"Saya pun sebagai Dirut tidak boleh bicara," kata Syahril di RSPI Sulianti Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (4/3/2020).

Ia mengklaim, hal tersebut juga telah sesuai undang-undang. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci regulasi apa yang dimaksud.

"Itu sudah aturannya. Kemarin Presiden yang mengumumkan dan itu sudah ada UU-nya."

"Kami pun tidak memberi tahu ke pasien sebelum Presiden mengumumkan," jelasnya.

Membaik

Syahril mengatakan, kondisi dua pasien yang positif terjangkit Virus Corona membaik.

Kedua pasien masih dirawat intensif di ruang isolasi.

"Sampai hari ini berarti hari keempat, alhamdulillah semakin membaik."

"Kalau kemarin itu tinggal batuk-batuk sedikit, sekarang pun begitu," kata Syahril.

Ia menuturkan, kedua pasien yang juga warga Depok itu tidak lagi mengalami demam tinggi.

Sama dengan hari kemarin, yang bersangkutan sudah bisa berkomunikasi dengan keluarganya melalui ponsel.

"Demam sudah tidak ada lagi, batuknya sudah berkurang jauh, tidak ada sesak napas, dan mereka bisa berkomunikasi dengan keluarganya melalui HP," ungkapnya.

Syahril menuturkan, kedua pasien masih akan melakukan serangkaian pemeriksaan medis di ruang isolasi RSPI.

Pemeriksaan itu dilakukan dalam waktu tiga hari ke depan.

Nantinya pada Sabtu (7/3/2020), keduanya akan melakukan pemeriksaan ulang untuk menelisik apakah Virus Corona itu masih ada di tubuh pasien atau tidak.

"Kalau nanti hasilnya negatif, kemudian 5 hari setelah dinyatakan negatif, baru boleh dia dipulangkan."

"Jadi tetap laboratorium sebagai parameter untuk memulangkan pasien tersebut," terangnya.

Total 9 Orang Dirawat

Syahril mengatakan, pihak rumah sakit merawat total 9 pasien terkait virus Corona.

Dari jumlah tersebut, baru dua pasien yang dinyatakan positif terjangkit virus Covid-19.

Kedua pasien positif Corona itu adalah seorang ibu (64) dan anaknya (31), warga Depok, Jawa Barat.

Keduanya tertular dari Warga Negara Asing (WNA) asal Jepang di suatu kafe di Jakarta.

"Jadi saat ini sudah ada total 9 yang dirawat di ruang isolasi ketat."

"Yang dua sudah positif," ucap Syahril.

Dari 7 orang yang masih dalam status pasien dalam pengawasan (PDP), ia menuturkan, hanya 3 pasien yang mengalami sakit seusai kontak langsung dengan dua WNI yang positif Corona.

Sedangkan sisanya, pasien tersebut jatuh sakit setelah mengunjungi wilayah pandemik virus Corona.

Mereka mempunyai gejala sakit mirip orang terjangkit virus Covid-19.

"Dari sekian pasien ini, ada 3 yang kontak dengan pasien positif sebelumnya."

"Yang 2 lagi tracking karena dalam riwayat ada hubungannya dengan daerah yang diduga endemis tadi," bebernya.

Secara umum, dia menuturkan, ketujuh pasien itu masih dalam kondisi baik.

Namun, mereka masih mengalami demam hingga batuk.

"Tujuh yang sudah berada di dalam kondisinya juga bagus, tapi ada demam, batuk-batuk, dan sakit menelan," urainya.

Fasilitas Seperti Hotel

Syahril mengatakan, pihak rumah sakit telah memberikan pelayanan prima untuk 9 pasien yang dirawat terkait Virus Corona di ruang isolasi.

Bahkan, ia memberikan fasilitas layaknya hotel untuk para pasien.

"Di sana kita buat senyaman mungkin. AC-nya bagus kayak di hotel."

"Pasien juga bisa nonton TV dan kemudian bisa berkomunikasi," papar Syahril.

Ia menuturkan, hal tersebut sekaligus menjawab adanya kabar pasien tertekan di ruang isolasi.

Menurut Syahril, pihak rumah sakit berupaya memberikan pelayanan optimal.

"Tapi sekali lagi, yang namanya orang sakit dan dalam isolasi tidak senyaman kalau kita di luar seperti ini."

"Jadi harap dimaklumi. Mereka juga tidak diapa-apakan," cetusnya.

Menurut Syahril, upaya rumah sakit melakukan isolasi terhadap seluruh pasien, bertujuan agar tidak terjadi penularan virus yang lebih meluas.

Namun demikian, ia memaklumi psikis pasien mengalami tertekan.

"Semua dimonitor tetap dengan CCTV di ruang observasi."

"Kita tahu satu per satu pasien kondisinya."

"Sekali lagi, kita sangat memaklumi kalau orang dalam pengawasan sendirian di ruangan seperti itu ya," paparnya. (*)
close