Uang tak mampu membeli segalanya - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Uang tak mampu membeli segalanya

Bulan ini adalah kali ketiga kami mengalami kekecewaan, mungkin kami sebagai orang tuanya tidak terlalu sakit hati, entah dengan anakku. Anakku, Dimas(nama samaran) bergabung di klub sepakbola sejak 4 tahun silam. Ia memang sangat tertarik dengan olahraga sepak ini. Belum lagi didukung dengan bakat alami yang ia miliki, semua orang termasuk pelatihnya juga mengagumi bahkan percaya bahwa kelak ia akan menjadi bintang lapangan yang bersinar.

Tapi menjadi sukses memang bukan perkara mudah, banyak sekali kerikil-kerikil yang membuat kami terseok-seok. Kami sebagai orangtuanya hanya bisa memberikan doa dan support terbaik. Sayangnya semua itu tidak bisa berjalan mulus tanpa bantuan fulus.

Itulah yang harus kami hadapi meskipun kemampuan anakku sudah tidak diragukan lagi, tapi untuk maju ke posisi yang lebih baik ternyata tidak mudah. Tidak sedikit orang tua yang memaksakan anak-anak mereka yang kemampuannya jauh di bawah anakku untuk ikut dalam liga-liga besar dengan memaksa pelatihnya. Belum lagi dengan jumlah rupiah yang mereka tawarkan. Kami hanya bisa mengelus dada begitu tahu bahwa Dimas gagal ikut masuk tim untuk berlaga di ajang nasional kemarin lusa. Kami memang tidak bisa memberikan uang lebih untuk membantu memuluskan jalan Dimas.

Akhirnya kami hanya pasrah dan berdoa pada Yang Maha Kuasa, minta ditunjukkan yang terbaik sambil terus menguatkan anakku. Memberikannya pengertian bahwa beginilah realita kehidupan yang harus ia hadapi. Sambil terus mengajarkannya tentang sebuah kejujuran.

Di akhir bulan, ayahnya Dimas mendapat telepon dari nomor yang tidak ia kenal. Biasanya tidak pernah mau menerimanya, tapi atas petunjuk NYA, ia mau mengangkat telepon dan berbicara dengan seseorang di sana. Aku lihat ia beranjak meninggalkan kami yang sedari tadi bersama di ruang tengah. Ia terlihat berbicara dengan sangat serius. Cukup lama ia berbicara di telepon hingga akhirnya aku mendengar langkah kakinya menghampiri kami.

“Alhamdulillah Dimas, baru saja Ayah dapat telepon dari Jakarta. InsyaAllah besok siang kita akan bertemu dengannya dan membicarakan kontrakmu untuk bermain dengan tim nasional yang akan segera bertanding di China bulan depan.”

Kami yang mendengar ucapannya hanya mampu membelalakkan mata tak percaya pada apa yang didengar.

“Ayo sujud syukur,” pinta suamiku.

“Allahu akbar, indahnya cintamu pada kami Ya Rabb.”