Misteri Gargantua di Perairan Nusantara - Navigasi Berita a -->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Misteri Gargantua di Perairan Nusantara


Misteri Gargantua di Perairan Nusantara

------ "Berita China dan catatan bangsa Eropa dengan jelas menuliskan adanya 'kapal raksasa' yang berlayar di perairan Nusantara yang bukan milik mereka. Lantas siapa pemilik sesungguhnya....?"

==============================

Wujud sangat besar bagaikan "Gargantua" adalah kata yang mungkin paling pas untuk menggambarkan sebuah kapal raksasa yang pernah menjadi penguasa pelayaran samudera dari selatan daratan Cina sampai kepulauan rempah sejak awal penanggalan Masehi.

Gargantua adalah kata yang digubah Francois Rabelais, penulis Prancis abad 16, untuk menggambarkan raksasa yang sangat besar dan rakus. Kamus Merriam-Webster menyebutkan, gargantua berasal dari bahasa Portugis yang diserap dari bahasa Berber di Afrika Utara yang sempat berkuasa di tanah Andalusia.

Bahasa Melayu menyerapnya menjadi "gergasi" yang mudahnya diterjemahkan sebagai "raksasa pemakan orang". Mitologi Eropa menyerapnya menjadi "ogre" yang artinya tidak lain adalah raksasa.

Wujud sangat besar bagaikan "gargantua" adalah kata yang mungkin paling pas untuk menggambarkan sebuah kapal raksasa yang pernah menjadi penguasa pelayaran samudera di awal penanggalan Masehi.

===============================

Berita China:

Buku abad ke-3 berjudul "Hal-Hal Aneh dari Selatan" (南州異物志) karya Wan Chen (萬震) mendeskripsikan sebuah kapal yang mampu membawa 700 orang bersama dengan lebih dari 10.000 "斛" kargo (menurut berbagai interpretasi, berarti 250-1000 ton).

"Kapal ini bukan berasal dari Cina, namun mereka berasal dari K'un-lun (berarti "kepulauan di bawah angin" atau "negeri Selatan"). Kapal-kapal yang disebut K'un-lun po (atau K'un-lun bo), yang besar lebih dari 50 meter panjangnya dan tingginya di atas air 4-7 meter".

Dia menjelaskan desain kapal sebagai berikut:

"Keempat layar itu tidak menghadap ke depan secara langsung, tetapi diatur secara miring, dan diatur sedemikian rupa sehingga semuanya dapat diatur ke arah yang sama, untuk menerima angin dan mengarahkannya. Layar-layar yang berada di belakang angin paling banyak menerima tekanan angin, melewatkannya dari satu sisi ke sisi yang lain, sehingga layar dapat memanfaatkan kekuatan angin."

"Jika sedang badai, (para pelaut) mengurangi atau memperbesar permukaan layar sesuai dengan kondisi. Layar miring ini, yang memungkinkan layar untuk menerima angin dari satu dan lainnya, menghindarkan kecemasan yang terjadi ketika memiliki tiang tinggi. Dengan demikian kapal-kapal ini berlayar tanpa menghindari angin kencang dan ombak besar, dengan itu mereka dapat mencapai kecepatan tinggi." — Wan Chen,

Pada 1178 M, petugas bea cukai Guangzhou, Zhou Qufei, menulis dalam Lingwai Daida tentang kapal-kapal negeri Selatan:

"Kapal yang berlayar di laut Selatan (laut Natuna Utara?) dan Selatannya lagi (Samudera Hindia?) seperti rumah raksasa. Ketika layarnya mengembang mereka seperti awan besar di langit. Kemudi mereka panjangnya mencapai puluhan kaki. Sebuah kapal dapat membawa beberapa ratus orang, dan bekal beras untuk setahun. Babi diberi makan di dalamnya dan anggur difermentasikan saat berlayar. Tidak ada laporan dari orang yang masih hidup atau sudah meninggal, bawa mereka tidak akan kembali ke daratan saat mereka sudah berlayar ke lautan yang biru."

===============================

Catatan Eropa:

Gaspar Correia, penulis sejarah abad 16 dari Portugis mencatat tentang pertemuan Alfonso Albuquerque dengan kapal raksasa yang terjadi di Selat Malaka. Catatan Gaspar itu menyebutkan bahwa kapal raksasa itu tidak mempan ditembak meriam yang terbesar. Hanya dua lapis papan yang bisa ditembus dari empat lapis papan kapal itu. Saat kapten mencoba untuk menaikinya bagian belakang kapal Flor de la Mar tidak bisa mencapai jembatannya.

Alfonso Albuquerque sendiri mencatat kalau jung itu memiliki empat tiang layar. Bobot muatannya sekitar 600 ton. Sedangkan yang terbesar tercatat dimiliki Kerajaan Demak dengan bobot mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513.

Pada Januari 1513 Pati Unus mencoba mengejutkan Malaka, membawa sekitar 100 kapal dengan 5.000 tentara Jawa dari Jepara dan Palembang. Sekitar 30 dari mereka adalah jung besar seberat 350-600 ton (pengecualian untuk kapal utama Pati Unus), sisanya adalah kapal jenis lancaran,penjajap, dan kelulus. Kapal-kapal itu membawa banyak artileri yang dibuat di Jawa.

Dalam sebuah surat kepada Alfonso de Albuquerque, dari Cannanore, 22 Februari 1513, Fernão Pires de Andrade, Kapten armada yang diarahkan Pate Unus, mengatakan:

"Jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang dilihat oleh orang-orang dari daerah ini. Ia membawa seribu orang tentara di kapal, dan Yang Mulia dapat mempercayaiku ... bahwa itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilihat, karena Anunciada di dekatnya tidak terlihat seperti sebuah kapal sama sekali."

"Kami menyerangnya dengan bombard, tetapi bahkan tembakan yang terbesar tidak menembusnya di bawah garis air, dan (tembakan) esfera (meriam besar Portugis) yang saya miliki di kapal saya berhasil masuk tetapi tidak tembus; kapal itu memiliki tiga lapisan logam, yang semuanya lebih dari satu koin tebalnya. Dan kapal itu benar-benar sangat mengerikan bahkan tidak ada orang yang pernah melihat sejenisnya."

"Butuh waktu tiga tahun untuk membangunnya, Yang Mulia mungkin pernah mendengar cerita di Malaka tentang Pati Unus, yang membuat armada ini untuk menjadi raja Malaka." — Fernao Peres de Andrade, Suma Oriental.

Takjub akan kekuatan kapal ini, Albuquerque mempekerjakan 60 tukang kayu dan arsitek kapal Jawa untuk bekerja di Malaka. Setidaknya 1 jong dibawa ke Portugal, untuk digunakan sebagai kapal penjaga pantai di Sacavem dibawah perintah raja John III.

Pedagang Italia, Giovanni da Empoli, dalam surat-suratnya (1970) menulis bahwa di tanah Jawa, jung tidak berbeda dibanding benteng, karena memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri. Mereka berlayar bersama dengan wanita, anak-anak, dan keluarga mereka, dan semua orang menjaga kamarnya sendiri.

Almarhum Denys Lombard adalah orang yang sangat hati-hati dalam menyebutkan sebuah istilah yang berasal dari masa lampau. Dalam buku Nusajawa: Jaringan Asia (2004), ketika menyebut tentang "jung" dari Asia Tenggara,

Lombard menyebutnya sebagai kapal-kapal raksasa yang banyak dicatat oleh penjelajah Eropa berlayar di perairan "kun-lun" atau Laut Selatan. Istilah itu adalah istilah yang disukai oleh pencatat sejarah Tiongkok tentang perairan di sebelah selatan Tiongkok daratan yang membentang hingga pulau rempah.

Pierre-Yves Manguin, salah seorang kolega Denys Lombard di EFEO (Sekolah Prancis untuk wilayah Timur Jauh), pernah menulis khusus tentang "jung". Di mata Manguin, kapal-kapal raksasa yang berasal dari galangan-galangan kapal yang dekat dengan kawasan hutan jati di Cirebon, Jepara, dan Tuban ini adalah kapal dagang utama orang-orang Asia Tenggara. Kelebihan yang paling utama dari kapal raksasa ini adalah kapasitasnya yang sangat besar dan bisa membawa komoditas yang sangat bernilai tinggi jika dibawa dalam jumlah besar pada waktu itu yakni beras.

Pierre-Yves Manguin, setelah mempelajari berbagai catatan para ahli membuat beberapa kesimpulan tentang karakteristik "jung" orang-orang Asia Tenggara atau Nusantara.

"Kapal yang sangat besar sekitar 50 meter panjangnya dengan kapasitas angkut 500 hingga 1.000 orang dengan kapasitas beban antara 250 hingga 1.000 ton.Tidak menggunakan besi atau paku sebagai teknologi pembuatannya. Orang Nusantara menggunakan pasak untuk merekatkan bagian kapal satu sama lain. Dinding kapal terdiri dari lapisan-lapisan papan yang terbuat dari kayu jati. Tidak adanya satu jenis kemudi. Ada semacam cadik dengan dua bilah yang ditaruh di belakang dek kapal. Kapal raksasa itu menggunakan bermacam layar, mulai dari dua layar hingga empat layar besar, lengkap dengan sebuah busur besar sebagai kemudi angin."